Ketika Sang Mentari itu Tiba
Ketika Sang Mentari itu Tiba
Kring…Kring…Kring…Suara ponsel di saku celanaku berdering keras memecah suasana siang itu, ternyata itu panggilan dari salah satu klienku yang beberapa saat sebelumnya kuhubungi untuk membicarakan masalah pembayaran proyek software perusahaannya yang sedang kutangani.
“Assalamualikum…” sapaku.
“Waalaikumsalam,” balas suara di seberang sana.
“Maaf mengganggu, Ful. Ada yang mau mbak bicarakan,”
“Tidak kok, mbak. Tidak mengganggu.”
“Begini, Ful…”
Mba Lin nama klienku itu. Ia menelponku bukan karena ada yang terlupa atau ingin meminta maaf karena keterlambatan pembayaran proyek melainkan untuk mengundangku berkunjung ke rumahnya sore ini. Ia bilang padaku ada hal penting di luar proyek yang hendak dibicarakan. “Baik, mbak! Insya Allah saya segera kesana… Waalaikumsalam warahmatullah,” ujarku menutup pembicaraan.
Beberapa menit kemudian, aku, dengan motor kesayanganku, melaju menuju rumah mbak Iin. Sepanjang perjalanan Kepalaku berputar menerka-terka tentang hal apa yang akan dibicarakannya nanti padaku. Jangan-jangan aku akan dijodohkan dengan adik iparnya, pikirku tiba-tiba. Ah, aku ini! kenapa berpikiran seperti itu. Astagfirullah!
Kuparkirkan motorku di depan sebuah rumah berpagar biru. Motorku kelihatan keren sekali hari ini setelah sebelumnya kucuci bersih. Wah,wah,wah, decakku sendiri mengagumi motor bersihku. Tersadar dari kekaguman akan motor sendiri teringat aku dimana sekarang kuberdiri. “Wuih…” Aku menghela nafas panjang. kupanjangkan leherku ke atas pagar untuk melihat keadaan di teras rumah.
“Assalamualaikum!!!” Sapaku.
“Waalaikumsalam!!!” Sebuah suara menyahut dari arah dalam pagar. “Masuk, Ful!”
“Makasih, mbak.”
Aku membuka pagar rumah mbak Lin. Mendapatinya seorang diri di teras rumahnya.
“Sepi banget mbak. Mas mana?” tanyaku kepada mbak Lin tentang suaminya.
“Oh, iya. Memang sedang sepi. Mas sudah pergi kuliah dari tadi siang. Duduk di depan saja ya, Ful.”
“Oh, iya, mbak. Terima kasih.”
Mbak Lin mempersilahkanku duduk di teras. Kemudian, setelah menanyaiku minuman apa yang disuka ia masuk ke dalam rumah. Sendiri aku di teras rumah mba Lin. Kepalaku masih bertanya-tanya tentang hal yang mungkin dalam beberapa menit lagi akan kuketahui. Tentang apa, ya?
“Begini, Ful. Langsung saja, ya.” Ujar mbak Lin sembari menaruh secangkir teh di meja. “Kamu sudah ada niatan menikah belum?”
Deg! Jantungku seolah berhenti berdetak. Jangan-jangan… “Maksudnya, mba?”
“Begini… Mbak dapat amanah dari keluarga suami mbak untuk mencarikan jodoh adik ipar mbak yang bernama Aliv,” Ujar mbak Lin tanpa basa-basi, “Mbak bermaksud menjodohkan kamu dengan kamu, Ful.”
Deg! Jantungku kembali seolah berhenti sesaat lalu kemudian meronta ingin keluar dari dada. Aku terdiam berusaha agar terlihat tenang.
“Bagaimana, Ful?”
Pertanyaan terakhir mbak Lin hampir tak terdengar di telingaku. Seolah hanya detakan jantung yang menabuh gendang telingaku. Benar saja dugaanku tadi. Ini tentang perjodohan. Aku berusaha menenangkan diri. Entah bagaimana reaksiku yang tertangkap di mata mbak Lin. Aku tidak berani menerka. Tiba-tiba saja wajah itu muncul di ingatanku.
Aliv. Ya, Aliv. Aliv yang baru saja dibicarakan oleh mbak Lin adalah adik kelasku di kampus dulu. Kami sama-sama kuliah di kampus swasta terbesar di Asia di bilangan Depok. Ia aktivis rohis, sama denganku. Karena ia-lah aku dan mba Lin menjalin kerja sama dalam pekerjaan. Aku yang seorang programmer dimintai untuk menyelesaikan proywk software untuk toko tanaman mbak Lin. Lumayan lah untuk memperbanyak portofolio CV, pikirku saat itu.
“Bagaimana ful?”, mba lin mengulangi pertanyaannya.
Aku tersentak kaget namun masih berusaha mengendalikan diri. “Oh, iya, mbak. Mm…. Begini…”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Saya setuju saja, mbak,” ujarku, pelan. “Namun sepertinya saya harus bicarakan dulu hal ini dengan orang tua saya.”
Mbak Lin mengangguk mengerti. Beberapa menit kemudian aku meminta diri dan langsung pulang ke rumah. Kepalaku masih terus berputar. Kali ini bukan menerka-terka tentang apa yang akan dibicarakan mbak Lin padaku tetapi berputar memikirkan tentang apa yang akan dikatakan orang tuaku mendengar perjodohan ini. Apakah mungkin orang tuaku akan mengizinkan perjodohan tersebut?
To be continued